Tiakur, Lintas-berita.com, – Di atas tanah yang pernah ia relakan untuk kepentingan negara, Marthen Kaidalu justru bertahun-tahun tinggal dalam rumah yang nyaris tak lagi layak disebut tempat tinggal. Dindingnya menua, fondasinya rapuh, dan harapan perlahan memudar—hingga suatu pagi, derap sepatu para prajurit datang membawa perubahan.
Pagi di Desa Moain itu berbeda dari biasanya. Suara palu mulai terdengar sejak matahari belum terlalu tinggi. Beberapa prajurit tampak sibuk mengukur tanah, menggali, dan memasang kayu sebagai penanda awal sebuah bangunan baru.
Di titik itulah rumah Marthen Kaidalu akan dibangun kembali. Rumah lamanya masih berdiri tak jauh dari lokasi itu—atau lebih tepatnya, masih bertahan. Kayu-kayunya telah menua, sebagian mulai lapuk. Atap yang bocor, dindingnya tak lagi rapat, dan fondasinya tak pernah benar-benar kuat sejak awal.
Rumah itu dibangun oleh orang tuanya puluhan tahun lalu. Sejak itu, tak banyak yang berubah—kecuali usia bangunan yang terus menua, perlahan kehilangan kemampuannya untuk melindungi.
Di dalam rumah itu, Marthen dan keluarganya menjalani hari-hari dengan keterbatasan. Sebagai seorang petani sekaligus nelayan, penghasilannya tidak seberapa, hanya cukup untuk menafkahi keluarganya sehari-hari.
Tak ada banyak pilihan. Perbaikan besar bukan hal yang mudah dilakukan, apalagi di wilayah kepulauan dengan akses terbatas. belum lagi harga bahan bangunan yang tinggi “selangit” di wilayah perbatasan antar negara itu. Waktu berjalan, dan rumah itu terus bertahan dalam kondisi seadanya.
Namun kisah Marthen tidak berhenti pada keterbatasan itu. Ia pernah membuat keputusan besar—menyerahkan sebagian tanah milik keluarganya untuk pembangunan markas komando batalyon di wilayah Maluku Barat Daya. Sebuah keputusan yang mungkin tak mudah, tetapi ia lakukan sebagai bentuk dukungan bagi kepentingan yang lebih luas.
Kini, di tanah yang sama, perubahan itu kembali datang. Melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128, Satuan Tugas dari Kodim 1511/Pulau Moa mulai membangun rumah baru untuknya.
Pekerjaan dimulai dari nol. Tanah diratakan. Boplang dipasang sebagai batas dan acuan. Lubang-lubang pondasi digali dengan teliti. Setiap ukuran diperhitungkan, setiap langkah dikerjakan dengan cermat.
Fondasi menjadi prioritas—karena di situlah semua harapan akan berdiri. Para prajurit bekerja dalam ritme yang teratur. Keringat mereka jatuh bersama debu tanah yang terangkat.
Di sela-sela pekerjaan, tak banyak kata yang terucap. Semua seolah memahami bahwa apa yang mereka bangun bukan sekadar rumah, tetapi tempat hidup sebuah keluarga.
Di pinggir lokasi, Marthen berdiri memperhatikan. Wajahnya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan—antara haru, lega, dan harapan yang perlahan kembali tumbuh.
Ia tak banyak bicara, tetapi matanya mengikuti setiap gerakan para prajurit yang bekerja di lahannya.
“Saya sangat berterima kasih,” ujarnya pelan. Kalimat itu sederhana, namun memuat perjalanan panjang yang tak terlihat.
Selama ini, memiliki rumah yang layak mungkin terasa seperti harapan yang terlalu jauh. Kini, harapan itu mulai berdiri, dimulai dari fondasi yang sedang dikerjakan.
Program TMMD ke-128 memang dirancang untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat di wilayah terpencil. Di Pulau Moa, sasaran pembangunan tidak hanya berupa jalan atau fasilitas umum, tetapi juga rumah-rumah warga yang selama ini luput dari perhatian.
Namun di balik program itu, ada cerita-cerita seperti milik Marthen—tentang memberi tanpa banyak meminta, dan tentang harapan yang akhirnya kembali.
Di Desa Moain, pembangunan rumah itu masih dalam tahap awal. Pondasi belum selesai, dinding belum berdiri, atap belum terpasang.
Tetapi bagi Marthen, perubahan sudah dimulai. Karena bagi seseorang yang telah lama hidup dalam keterbatasan, harapan tidak selalu datang dalam bentuk rumah yang selesai.
Kadang, harapan itu cukup dimulai dari tanah yang digali—dan keyakinan bahwa kali ini, sesuatu yang lebih baik benar-benar sedang dibangun. (LB-01)
