80 Koperasi di MBD Terus Dikebut di Tengah Medan Ekstrem dan Logistik Terbatas

Koperasi Merah Putih
Komandan Kodim 1511/Pulau Moa Letkol Inf Nuriman Siswandi memberikan keterangan tentang pembangunan 80 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di wilayah kepulauan MBD dengan medan geografis yang sulit.

Tiakur, Lintas-berita.com, – Pembangunan 80 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) terus dikebut meski menghadapi tantangan geografis ekstrem, keterbatasan material, serta kendala distribusi logistik di wilayah kepulauan.

Komandan Kodim 1511/Pulau Moa Letkol Inf Nuriman Siswandi mengatakan proyek tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat ekonomi desa, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

“Berdasarkan hasil survei dan pemetaan lahan, terdapat sekitar 80 titik koperasi yang siap dibangun di Maluku Barat Daya,” kata Nuriman di Tiakur, Rabu, 18 Maret 2026.

Pembangunan koperasi dilakukan dengan metode karya bakti padat karya yang melibatkan masyarakat setempat. Warga direkrut untuk mengerjakan tahap awal pembangunan, mulai dari fondasi hingga struktur dasar bangunan.

“Setiap titik pembangunan melibatkan sekitar 10 hingga 30 tenaga kerja lokal. Ini menjadi bagian dari upaya memberdayakan masyarakat sekaligus mempercepat pekerjaan,” ujarnya.

Program tersebut mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Sosialisasi yang dilakukan bersama pemerintah kabupaten dan desa juga mendapat respons positif dari masyarakat.

Koperasi Merah Putih
Dandim 1511/Pulau Moa Letkol Inf Nuriman Siswandi meninjau pembangunan 80 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di wilayah kepulauan MBD dengan medan geografis yang sulit.

Menurut Nuriman, koperasi desa diharapkan menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari pengumpulan hasil produksi hingga distribusi barang dan jasa.

“Koperasi ini akan menjadi penggerak ekonomi desa, terutama di wilayah terpencil. Aktivitas ekonomi bisa tumbuh dari desa dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” katanya.

Namun, pelaksanaan pembangunan menghadapi sejumlah kendala. Secara geografis, Maluku Barat Daya terdiri dari puluhan pulau dengan akses transportasi yang terbatas.

“Wilayah MBD terdiri dari 48 pulau, dengan 14 pulau berpenghuni yang menjadi lokasi pembangunan. Kondisi ini menjadi tantangan utama dalam distribusi material,” ujar Nuriman.

Dandim 1511/Pulau Moa Letkol Inf Nuriman Siswandi berdialog dengan tokoh masyarakat di lokasi pembangunan 80 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di wilayah kepulauan MBD dengan medan geografis yang sulit.

Keterbatasan material lokal juga menjadi hambatan. Di sejumlah wilayah, bahan seperti batu, pasir, dan kerikil sulit diperoleh sehingga harus didatangkan dari luar daerah.

Selain itu, material untuk struktur bangunan atas seperti baja dan besi harus didatangkan dari luar Maluku, termasuk dari Pulau Jawa.

Distribusi material menghadapi kendala tambahan karena keterbatasan fasilitas pelabuhan di sejumlah pulau. Tidak semua pelabuhan mampu menampung kapal besar pengangkut material, sehingga diperlukan proses bongkar muat bertahap dan alat angkut tambahan ke lokasi pembangunan.

Kondisi cuaca turut memperberat proses tersebut. Angin musim barat yang disertai gelombang tinggi kerap menghambat pengiriman material dan proses bongkar muat di pelabuhan.

KOperasi merah Putih
Dandim 1511/Pulau Moa Letkol Inf Nuriman Siswandi berpose bersama warga di lokasi pembangunan 80 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten MBD. Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di wilayah kepulauan MBD dengan medan geografis yang sulit.

“Dalam beberapa kasus, material tidak bisa langsung diturunkan, bahkan ada yang rusak akibat cuaca buruk saat proses pengiriman,” katanya.

Meski demikian, sebagian material telah tiba di lokasi, sementara sisanya masih dalam proses pengiriman.

Kodim 1511/Pulau Moa menargetkan pembangunan koperasi dapat berjalan efektif dan selesai tepat waktu sesuai spesifikasi yang ditetapkan.

Nuriman berharap keberadaan koperasi tersebut nantinya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Maluku Barat Daya.

“Harapannya, koperasi ini benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat desa dan menjadi penggerak ekonomi di wilayah kepulauan,” ujarnya. (LB-01)