Ambon, Lintas-berita.com – Pasangan Wali Kota – Wakil Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena – Elly Toisutta untuk pertama kalinya menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna DPRD setempat, Selasa (4/3/2025).
Rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Kota Ambon, Maurits Tamaela, menjadi momen bagi Bodewin dan Elly untuk memaparkan dan memperjelas visi dan misi mereka untuk membangun Ambon hingga lima tahun ke depan.
Visi pembangunan Kota Ambon yang diusung Bodewin – Elly yakni “Ambon Manise yang Inklusif, Toleran, dan Berkelanjutan”. Konsep ‘Ambon Manise’ yang dijabarkan Bodewin dalam pidato perdana itu, mencerminkan karakter masyarakat yang Maju, Aman, Nyaman, Indah, Sehat, dan Sejahtera.
Konsep ‘inklusif’ dalam pembangunan Kota Ambon, berarti memberikan akses dan kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan.
Sedangkan ‘toleran’ menggambarkan Ambon sebagai kota yang terbuka terhadap keberagaman suku, agama, dan budaya, sekaligus menjadikannya modal utama dalam mewujudkan kota yang harmonis dan maju.
Mantan Sekretaris DPRD Provinsi Maluku itu juga menekankan aspek keberlanjutan dalam program pembangunan di Ibu Kota Provinsi Maluku itu, di mana tidak hanya memperhatikan memperhatikan kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan kesejahteraan generasi mendatang melalui pengelolaan sumber daya yang bijaksana.
Prinsip ini mencakup pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab, keadilan sosial, serta peningkatan infrastruktur yang ramah lingkungan.
Dalam mewujudkan visi tersebut pemerintah daerah akan mengedepankan kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat, pembangunan infrastruktur yang merata, serta memperkuat budaya dan kearifan lokal sebagai identitas kota.
Bodewin kemudian menjelaskan secara lebih detail tentang visi yang telah disampaikannya. “Ambon Manise menggambarkan sifat manis yang sudah mengalir dalam raga masyarakat Kota Ambon yang terkandung didalamnya mencakup Maju, Aman, Nyaman, Indah, Sehat, dan Sejahtera,” tutur Bodewin.
Sifat Inklusif dalam konteks pembangunan Ambon, menurutnya dimaknai sebagai pembangunan yang memberi ruang, akses dan melibatkan semua komponen dapat berpartisipasi dan berkontribusi dalam pembangunan kota.
Sedangkan toleran, bermakna sebagai kota terbuka terhadap suku, agama, ras, terbuka terhadap keragaman yang dapat beradaptasi dengan segala keanekaragaman dan menjadikannya sebagai modal untuk menjadi kota yang berkebudayaan maju dengan semangat “Ambon Par Samua”.
Sedangkan konsep berkelanjutan, mencakup upaya untuk memastikan pembangunan yang dilakukan, tidak hanya memperhatikan kondisi saat ini saja, serta tidak mengorbankan kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri dalam seluruh bidang pembangunan.
“Konsep ketangguhan juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan berkelanjutan, baik dari aspek ekonomi, sosial, lingkungan, maupun kelembagaan,” ujar Bodewin.
Sedangkan Misi yang tertuang dalam rencana pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Ambon yang berjuluk Kota Musik, dimaksudkan untuk mewujudkan Ambon sebagai kota yang adil dan sejahtera, bagi semua kelompok masyarakat baik dari aspek fisik, sosial, maupun ekonomi.
“Dengan visi dan misi ini, kami berdua berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersinergi untuk mewujudkan Ambon sebagai kota yang adil, sejahtera, dan harmonis bagi semua orang,” demikian Bodewin Wattimena. (LB-04)







