Tiakur, Lintas-bertita.com, – Bupati Maluku barat Daya (MBD) Benyamin Thomas Noach mengajak kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), untuk menghindari diri dari gaya hidup konsumtif.
“Kita sebagai kader GMNI harus belajar untuk tidak bergaya konsumtif, tetapi harus belajar berproduksi untuk kehidupan jangka panjang,” ujar Bupati Noach saat membuka Kaderisasi Tingkat Dasar GMNI Cabang MBD, di Aula Bappedalitbang, di Tiakur, Kamis (24/4/2025).
Bupati menyatakan tantangan saat ini adalah kecenderungan pola hidup masyarakat yang konsumtif. “Tantangan kita saat ini adalah selalu mau menjadi pribadi yang konsumtif, ikut-ikutan, tidak mau berproduksi,” katanya.
Karena itu, Bupati menekankan pentingnya pelatihan dan kaderisasi, karena kemampuan tersebut dapat menjadi bekal untuk menghadapi tantangan geopolitik dunia dan perang dagang saat ini.
Kaderisasi menurut Noach, bukan sekadar seremoni, melainkan kewajiban sejarah untuk kelangsungan hidup bangsa. “Kalau kita ingin bangsa ini terus hidup, maka dibutuhkan kader-kader penerus bangsa yang militan,” ujarnya.
Dia menegaskan niat untuk bergabung dengan GMNI saja tidak cukup. “Niat harus diisi dengan ilmu pengetahuan dan ketahanan ideologi baru kita bisa berguna,” tegasnya.
Noach juga mengingatkan pentingnya komitmen dalam memperjuangkan kemajuan Indonesia. “Semua orang ingin Indonesia maju, tetapi siapa yang mau mantapkan dirinya untuk berjuang bersama-sama untuk kemajuan Indonesia maju?. Kader-kader GMNI, kader yang sudah siap bergabung dan mantapkan dirinya untuk berjuang bersama,” katanya.
Ia berharap melalui kaderisasi tingkat dasar yang mengangkat tema “Bersatu Melawan Penjajahan Gaya Baru” para peserta akan menjadi lebih kuat, lebih berilmu, dan bisa berguna bagi daerah serta bangsa.
Bupati juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh jajaran GMNI yang telah memberikan dukungan doa dan dukungan politik kepadanya dalam Pilkada 2024. “Pemkab MBD menyambut baik kegiatan ini. Saya berharap pendidikan kader seperti ini terus dilakukan demi pembinaan dan mempersiapkan generasi muda untuk mengambil alih tongkat estafet,” tutupnya.
*Bukan Sekadar Formalitas*
Sedangkan Sekretaris Jenderal DPP GMNI, Sujahri Somar menegaskan, kaderisasi yang dilakukan bukan sekadar formalitas. “Kaderisasi harus terus menjadi denyut nadi kader GMNI. Bicara soal GMNI tanpa momentum kaderisasi tidak mungkin hidup, karena di situlah ada regenerasi kepemimpinan dan ideologi yang terus berkembang mengawal Pancasila,” tegasnya.
Somar menggarisbawahi pertarungan geopolitik dunia masih diwarnai oleh Eropa dan Amerika sentris yang dihegemoni kapitalisme. Konstelasi tersebut, berdampak pada sektor politik, ekonomi dan budaya Indonesia. “Kita lihat kebijakan pemerintah Prabowo di awal memangkas semua anggaran atau efisiensi anggaran,” kata Somar.
Ia juga menyoroti pengesahan RUU TNI yang menurutnya berpotensi menghentikan supremasi sipil dan membangkitkan kembali Dwifungsi ABRI. “Dalam pidatonya, Bung Karno telah menjelaskan bahwa TNI harus berkobar semangat dalam menjaga kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan, tidak boleh ikut dalam politik. Ini adalah pesan ideologis,” tegasnya.
Efisiensi anggaran, menurutnya memang menguntungkan masyarakat kecil dan menggenjot pembangunan di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Tetapi di sisi lain, pengesahan RUU TNI menjadi pertanyaan besar.
“Kita boleh bermitra dengan pemerintah, tetapi harus menjadi mitra kritis sehingga check and balance tetap berjalan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Kebersamaan, menurut Somar, menjadi nilai penting yang ditanamkan dalam diri kader Marhaenis. “Perbedaan kita dengan kapitalisme dan komunisme sangat jelas. Kapitalisme sifatnya individualis, komunisme adalah pertentangan kelas dalam melakukan revolusi, sementara Marhaenis adalah gotong royong,” jelasnya.
Somar juga mengumumkan bahwa dalam waktu dekat akan diselenggarakan Kongres GMNI. “Kongres besok ini, tidak lain dilakukan hanya Kongres Persatuan,” ungkapnya.
*Penjajahan Gaya Baru*
Sedangkan, Ketua DPC GMNI MBD, Ridolof Loimalitna, menyampaikan tema kaderisasi yang diangkat sangat relevan dengan tantangan saat ini, berupa penjajahan gaya baru yang hadir dalam bentuk pemiskinan mental, ketergantungan ekonomi, dan penghancuran nilai-nilai budaya.
Loimalitna menegaskan era globalisasi, nilai-nilai luhur bangsa tergerus oleh budaya konsumtif, gaya hidup hedonistik, dan individualisme. “Kita tidak hanya berhadapan dengan kekuatan luar, tetapi juga dengan arus besar perubahan yang mempengaruhi cara berpikir dan bertindak,” kata Loimalitna.
Menurutnya, kaderisasi menjadi cara ampuh untuk melawan penjajahan gaya baru. “Kaderisasi tingkat dasar merupakan fondasi penting untuk membangun gerakan yang kokoh. Ini adalah saat menanamkan nilai-nilai perjuangan, semangat kebersamaan, dan cinta tanah air,” tuturnya.
Dia mengajak seluruh kader untuk membangun diri dengan integritas, kecerdasan, dan kepekaan sosial. “Bersatu adalah kunci utama dalam menghadapi penjajahan gaya baru. Dengan bersatu, kita menjadi kekuatan yang tak terbendung,” pungkasnya. (LB-01)
