Ambon, Lintas-berita.com,-Suasana haru, penuh keakraban, dan canda tawa mewarnai Persekutuan Anak-Anak 48 Tantui yang mempertemukan kembali keluarga besar yang telah lama terpisah karena pekerjaan, pendidikan, maupun merantau ke berbagai daerah di Maluku dan luar daerah.
Kegiatan yang berlangsung dalam nuansa kekeluargaan itu menjadi ajang melepas rindu sekaligus mempererat tali persaudaraan antargenerasi.
Para peserta yang datang dari berbagai wilayah memanfaatkan momen tersebut untuk saling mengenal kembali, berbagi cerita, serta memperkuat ikatan sebagai satu keluarga besar.
Ketua Panitia, Hendrik Benny Lewahirela mengatakan persekutuan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang untuk memperkokoh apa kebersamaan yang selama ini terpisah oleh jarak dan kesibukan.
“Sudah cukup lama kita tidak berkumpul. Ada yang berada di tanah rantau, ada yang tinggal hingga ke Halmahera dan Maluku Tenggara.
Di hari ini , Tuhan mempertemukan kita kembali dalam sukacita sebagai satu keluarga besar Anak-Anak 48 Tantui,” ujarnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan tersebut. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para donatur, senior, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga acara dapat terlaksana dengan baik.
Hendrik B.Lewahirela saat diwawancarai pers Sabtu, (11/7/2026) di Beby Indah Beach Tial dia mengatakan bahwa ‘ keberagaman yang dimiliki keluarga besar Anak-Anak 48 Tantui bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk terus menjaga persatuan dan saling mendukung.
“Walaupun kita berbeda suku, bahasa, dan agama, kita tetap satu keluarga. Melalui persekutuan ini kita belajar untuk saling mengasihi, menghargai, dan terus membangun kebersamaan,” katanya.
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai wadah mempererat silaturahmi sekaligus memberi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan talenta, kreativitas, dan rasa tanggung jawab terhadap keluarga besar Anak-Anak 48 Tantui.
Menutup sambutannya, Hendrik mengajak seluruh peserta untuk terus memegang teguh falsafah hidup orang Maluku, “Ale rasa, beta rasa; potong di kuku, rasa di daging.”
Menurutnya, pepatah tersebut mengandung makna bahwa setiap suka dan duka yang dialami oleh satu anggota keluarga harus dirasakan dan dipikul bersama.
“Jangan biarkan ada perpecahan di antara kita. Mari terus menjaga kasih sayang, kerukunan, dan kebersamaan, karena kita semua adalah satu keluarga besar Anak-Anak 48 Tantui,” pungkasnya.(LB.04)







