SISWA SMP ILWAKI RELA PUTUS SEKOLAH LANTARAN KECEWA DENGAN ATURAN SEPIHAK “ALA KEPALA SEKOLAH”

SISWA SMP ILWAKI RELA PUTUS SEKOLAH LANTARAN KECEWA DENGAN ATURAN SEPIHAK “ALA KEPALA SEKOLAH”

Ilwaki, Lintas-Berita.com_ Salah satu Siswa SMP Negeri 8 Ilwaki Kecamatan Wetar akhirnya memutuskan untuk berhenti dari sekolah setempat lantaran kecewa dan tak terima dengan keputusan kepala sekolahnya.

Jhonias Pitna salah satu siswa kelas 8 SMPN Ilwaki ini memilih berhenti dari studinya akibat tidak terima dengan keputusan kepala sekolahnya yang terkesan otoriter. Kepada media ini (4/10) di desa Hiay Kecamatan Wetar, Jonias Pitna bercerita, dirinya bersama ketiga rekanya yakni, Jonias Pitna, Jhosua Malaka, Ardi Nahakwain, Arya Tuan (kelas 1) Hanya bisa mengusap dada lantaran mereka dinyatakan naik kelas lewat namun kepala sekolah Margaretha Lerebulan memutuskan dirinya bersama kedua temannya harus tetap tinggal di kelas karena ada beberapa pelanggaran yang dibuat oleh mereka namun anehnya, dalam buku laporan pendidikan (reaport) tertera mereka dinyatakan naik kelas.
Hal ini lantas menimbulkan kekecewaan dan trauma bagi Jonias Pitna yang memilih putus sekolah pasca keputusan kepala sekolah itu.
Pitna bercerita, dirinya bersama kedua rekannya Josua Malaka dan Ardy Nahakwain dinyatakan naik ke kelas lll saat rapat penentuan kenaikan kelas pada bulan april 2022 lalu.

dan juga telah mengikuti assesmen namun atas perintah kepala sekolah, mereka bertiga di diwajibkan tinggal di kelas ll karena beberapa pelanggaran tadi. Anehnya, pelanggaran itu tidak ditulis dalam laporan pendidikan, kemudian dalam catatan dari wali kelas juga tidak dicantumkan.

Pitna menuturkan, Kepada dirinya bersama teman-temanya, kepala sekolah mengingatkan bahwa, bilamana mereka mau naik ke kelas lll maka harus pindah dari sekolah tersebut namun kalau tidak maka tetap berada di kelas ll padahal dalam laporan pendidikan mereka, dinyatakan naik ke kelas lll. Inilah yang membuat Pitna dan temannya kecewa akhirnya Pitna memutuskan untuk tidak lagi bersekolah (putus sekolah).

“Jujur beta kecewa dengan keputusan kepala sekolah. Masa katong su naik ke kelas lll tapi beliau perintahkan supaya katong tetap di kelas ll lalu kemudian bilang bahwa kalau katong mau duduk di kelas lll maka katong samua harus pindah di sekolah lain tapi kalau tidak mau maka tetap di kelas ll padahal katong sudah selesai ikut asessmen”, terang dia.

Selain Pitna, salah satu rekannya yakni, Ardi Nahakwain akhirnya memilih untuk pindah sekolah ke Tiakur sedangkan untuk Joshua Malaka tetap tinggal di kelas ll dan tidak bisa melanjutkan ke kelas lll meski menelan kekecewaan yang sangat dalam.

Orang tua murid dari Josua Malaka yakni, Frans Malaka juga mengutarakan kekecewaannya kepada media ini. Dia mengatakan bahwa selaku orang tua, dirinya sangat kecewa dengan keputusan dari pihak sekolah yang menetapkan anaknya Josua Malaka naik ke kelas lll namun faktanya masih berada di kelas ll. Baginya keputusan tersebut merupakan keputusan sepihak kepala sekolah namun mengatasnamakan dewan guru. Pasalnya keputusan tersebut tidak pernah dibicarakan sebelumnya dengan orang tua murid atau komite sekolah.

Olehnya, selaku orang tua, sebenarnya dia tidak terima adanya keputusan itu. Apalagi bukti dalam buku laporan pendidikan itu menyatakan anaknya naik ke kelas lll kemudian segala pelanggaran yang dilakukan oleh anaknya hanya soal sepeleh.

“Kan begini, anak saya katanya suka alpa di sekolah, sering ngantuk saat menerima pelajaran, kemudian sering melepas sepatunya di kelas saat menerima pelajaran namun dalam catatan wali kelas di buku laporan pendidikan, seluruh pelanggaran itu tidak dicantumkan hanya kita dikasih tau begitu saja oleh kepala sekolah. Bagi saya kenapa pihak sekolah tidak menindak anak saya di sekolah kan itu kewenangan ada pada pihak guru di sekolah.

Kemudian lanjut dia bahwa, mestinya kalau berdasarkan pelanggaran itu, maka kenapa anak saya tidak dinyatakan tinggal kelas saja tapi dalam laporan pendidikannya dinyatakan naik ke kelas lll, inilah yang membuat kecewa anak-anak kami sehingga ada yang akhirnya putus sekolah akibat dari kebijakan itu,” paparnya
Sementara itu.

Sementara itu, ketua komite SMPN Ilwaki Kilyon Maluarak saat dihubungi Lintas-Berita.com mengaku belum mendapat informasi terkait persoalan tersebut sehingga akang mengkoordinasikannya dengan pihak sekolah. Saat ini kepala sekolah setempat belum bisa dihubungi terkait persoalan tersebut. (LB.01)