Relly Noach,“Ibaratkan Sebuah Buku Tulis, Anak Usia Dini Merupakan Halaman Pertama Yang Masih Bersih, Tanpa Noda,”
Tiakur, Lintasberita.com_ Masa usia anak dari nol sampai enam tahun secara genetika disebut oleh para ahli sebagai masa emas atau golden age, masa pertumbuhan kecerdasan anak. Usia inilah, otak anak akan distimulasi atau dirangsang untuk mempelajari banyak hal yang terjadi disekitarnya.
Ia menegaskan, orang tua tidak boleh meracuni anak dengan makanan instan. Ada banyak sekali makanan lokal MBD yang memiliki nilai gizi tinggi yang dapat disajikan untuk anak-anak.
“Jangan meracuni anak-anak dengan memakan mie instan yang katanya makanan orang kota. Ini biasa terjadi, apabila orang tua sudah sibuk main handphone, nonton youtube, tiktok dan lainnya akhirnya lupa siapkan makanan untuk anak-anak, meja makan masih kosong maka mie instan menjadi makanan yang siap saji,”tegasnya.
Ia menjelaskan, kalau mau lihat masa depan, maka lihatlah anak-anak hari ini. Pesan ini memiliki makna yang sangat dalam, karena anak-anak inilah yang akan menentukan masa depan dunia, khususnya di Kabupaten MBD tercinta.
PAUD adalah, kata Rely, suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai usia enam tahun. Pemberian rangsangan pendidikan untuk menambah pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak. Anak harus memiliki kesiapan memasuki Pendidikan lebih lanjut.
Ia menambahkan, pendidikan dan pengasuhan anak, bukan saja menjadi tanggungjawab guru di sekolah saja tetapi juga orang tua di rumah karena waktu anak bersama orang tua dirumah lebih banyak.
Waktu yang sama Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten MBD, Eduard J. S. Davidz, ST, M.Eng dalam sambutannya mengatakan, pengembangan pendidikan adalah tanggungjawab dan kerja bersama semua pihak. SPS Tehila telah menjadi mitra yang baik, walaupun banyak tantangan yang dihadapi, SPS Tehila mampu melakukan tugas mulia, mempersiapkan anak usia dini untuk siap memasuki jenjang pendidikan dasar.
“Kami menyampaikan terima kasih bagi Pembina, Kepala SPS Tehila dan seluruh guru yang hingga saat ini terus menjalin kerjasama dan menjadi mitra yang baik dalam pengembangan pendidikan anak usia dini,”ujarnya.
Ia mengungkapkan, perlu adanya sinergi dengan pemerintah daerah agar tanggungjawab ini akan dipikul secara bersama.
Sementara itu, Pembina SPS Tehila yang juga selaku Ketua Majelis Jemaat GPM Tiakur, Pdt. Richard M. Maail, S.Teol mengatakan, pergumulan SPS Tehila bukan mudah dan gampang, begitu banyak persoalan yang harus dihadapi, baik pergumulan terkait dengan tempat belajar atau sekolah, sarana prasarana, kebutuhan para guru dan lain sebagainya.
“Pergumulan dan kekurangan itu tidak membuat kualitas sekolah ini menjadi hancur. Kita sebagai gereja, umat dan pelayan, sebagai guru, orang tua, pemerintah dan pihak lain selama ini telah menopang pendidikan ini dengan anugerah Tuhan berikan bagi kita,”tuturnya.
Richard menguraikan, SPS Tehila ini didirikan pada 20 September 2017 dan pada Tahun 2019 telah mengikuti akreditasi dengan mendapat nilai B saat itu, karena masih banyak hal yang kurang dan perlu dibenahi.
“Kita berdoa, SPS Tehila terus berkembang dan mengharumkan nama kita semua di Bumi Kalwedo,”katanya.
Untuk diketahui, SPS Tehila saat ini memilik 75 siswa dan 39 anak diantaranya hari ini menamatkan Pendidikan pada jenjang PAUD.
Hadir dalam kegiatan ini, Bunda PAUD Kabupaten MBD, Ibu. Rely Noach, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Bpk. Eduard J. S. Davidz, ST, M.Eng, Ketua Pokja PAUD, Ibu. Ellen Kilikily, Ketua Majelis Jemaat GPM Tiakur, Pdt. R. M. Maail, S.Teol, Ketua PKBM Philia, Ibu. Defelma Sohilait, S.Si, Kepala SPS Tehila, Marthen Watrimny dan Ketua Komite SPS Tehila, Ibu. Novita Wakim.(LB.01)
