Tiakur, Lintas-berita.com, – Pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah mulai dilaksanakan Unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), sejak Senin 24 Februari 2025.
Namun implementsi program unggulan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka, di daerah terpencil dan wilayah perbatasan antarnegara seperti MBD, tidak lepas dari berbagai tantangan dan kendala yang dihadapi, mulai dari distribusi hingga ketersediaan bahan baku.
Pembagian MBG perdana pada Senin (24/2/2025) telah menyasar 19 lembaga pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA sederajat yang tersebar di Tiakur, Kaiwatu, dan Wakarleli, dengan jumlah siswa yang akan memperoleh asupan gizi tambahan itu sebanyak sebanyak 3.487 orang.
SPPG pun telah membagi jadwal untuk memperlancar distribusi makanan yaitu pukul 09.00 WIT untuk siswa PAUD, TK, dan SD, sedangkan pukul 11.00 WIT untuk siswa SMP, SMA/SMK. Namun kenyataannya puluhan bahkan ratusan siswa yang bersekolah pada shift siang tidak menerima jatah makanan bergizi sesuai jadwal.
Jeni, salah satu pengelola Dapur Sehat di MBD, mengungkapkan kesulitannya dalam mendapatkan bahan baku, terutama buah-buahan.
Ia menjelaskan, bahwa kendala ini disebabkan oleh transportasi yang terbatas dan pasar lokal yang kurang aktif. “Saya kesulitan mendapatkan bahan baku, terutama buah, karena masalah transportasi dan pasar yang kurang aktif, sehingga pedagang buah tidak berjualan,” ujar Jeni kepada medi.
Selain itu, masalah distribusi turut memengaruhi pelaksanaan program. Keterbatasan armada menyebabkan beberapa siswa yang bersekolah pada shift siang tidak menerima jatah makanan bergizi sesuai jadwal. Hingga saat ini, pihak SPPG belum memberikan keterangan resmi mengenai solusi untuk mengatasi kesenjangan tersebut.
Meski demikian, masyarakat tetap menyambut positif program ini. Jeni berharap agar pemerintah dapat menghidupkan pasar lokal, sehingga kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi dengan lebih mudah.
Selain mendukung kelancaran program, pasar lokal yang hidup dan aktif juga berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. “Harapan saya ke depan, pemerintah bisa menghidupkan pasar lokal agar kami tidak kesulitan mencari bahan baku. Ini juga akan sangat membantu perekonomian masyarakat,” tambahnya.
Program MBG dengan fokus utamanya meningkatkan kualitas gizi anak-anak dan ibu hamil melalui makanan sehat berbahan pangan lokal, juga turut mendorong penggunaan bahan baku dari petani dan pelaku usaha lokal untuk memperkuat perekonomian daerah.
Namun pelaksanaan di daerah terpencil seperti MBD yang merupakan Beranda Negara, masih memerlukan perhatian serius Pemerintah Pusat terutama mengatasi tantangan logistik.
Infrastruktur transportasi yang terbatas dan kondisi geografis yang menantang, sering kali menghambat distribusi bahan baku maupun makanan siap saji. Selain itu, pasar lokal yang kurang aktif menyulitkan pengelola Dapur Sehat memperoleh bahan pangan segar dengan harga terjangkau.
Memang program Makan Bergizi Gratis di Maluku Barat Daya telah memberikan manfaat nyata bagi ribuan siswa, meskipun masih menghadapi berbagai tantangan logistik dan ketersediaan bahan baku.
Dengan dukungan pemerintah pusat dan partisipasi aktif masyarakat lokal, diharapkan kendala ini dapat teratasi sehingga program ini dapat berjalan lancar dan berkelanjutan.
Revitalisasi pasar lokal, penguatan infrastruktur transportasi, dan kolaborasi dengan komunitas setempat menjadi kunci utama untuk memastikan setiap anak di daerah terpencil mendapatkan akses makanan sehat dan bergizi demi masa depan yang lebih baik. (LB-02)
