Ambon, Lintas-berita.com, – Wali Kota Ambon, Bodewin M Wattimena, menegaskan bahwa penanganan stunting bukan sekadar urusan kesehatan, melainkan menyangkut masa depan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan daerah.
Hal itu disampaikan dalam kegiatan Pra Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik Stunting 2026 di Ambon, Rabu (8/4/2026), yang dihadiri jajaran pemerintah daerah, unsur Forkopimda, tokoh agama, hingga tenaga kesehatan.
“Stunting merupakan isu pembangunan strategis karena berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia, produktivitas, dan daya saing,” kata Bodewin.
Ia menjelaskan, anak yang mengalami stunting berisiko memiliki tingkat kecerdasan yang tidak optimal, lebih rentan terhadap penyakit, serta berpotensi mengalami penurunan produktivitas di masa depan.
Dampaknya, menurut dia, tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesenjangan sosial.
Pemerintah Kota Ambon mencatat tren penurunan prevalensi stunting dalam empat tahun terakhir, dari 21,8 persen pada 2021 menjadi 19,7 persen pada 2024. Sementara pada 2025, dari 17.450 balita yang diukur, tercatat 279 kasus stunting atau sekitar 1,60 persen.
Memasuki 2026, jumlah kasus kembali menurun menjadi 271 kasus dengan prevalensi 1,58 persen. “Ini menunjukkan kerja keras dan kolaborasi semua pihak mulai membuahkan hasil,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah menargetkan penurunan lebih agresif hingga di bawah 5 persen pada 2030.
Untuk 2026, target ditetapkan sebesar 14,7 persen, dengan penurunan rata-rata sekitar 3 persen setiap tahun.
Menurut Bodewin, tantangan utama dalam percepatan penurunan stunting adalah keterbatasan anggaran.
Namun, ia menekankan bahwa kondisi tersebut tidak boleh menghambat upaya pemerintah.
“Sebagai pemerintah, kita tidak boleh pesimis. Kita harus mampu beradaptasi dan mencari solusi,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya data yang akurat dan terintegrasi dalam penanganan stunting. Setiap kasus, kata dia, harus teridentifikasi secara jelas, mulai dari lokasi, kondisi awal anak, riwayat intervensi, hingga perkembangan dari waktu ke waktu.
Dengan data yang terukur, pemerintah dapat memastikan setiap program intervensi tepat sasaran dan memberikan dampak nyata.
Dalam forum tersebut, pemerintah daerah juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, baik antara perangkat daerah, tenaga kesehatan, maupun masyarakat.
“Tidak boleh ada yang bekerja sendiri-sendiri. Semua harus bergerak bersama,” ujar Bodewin.
Ia berharap upaya bersama tersebut dapat memastikan anak-anak di Ambon tumbuh sehat dan memiliki masa depan yang lebih baik. (LB-04)







