Tiakur, Lintas-berita.com, — Sebanyak 1,43 ton sampah berhasil dikumpulkan dalam kegiatan bersih pantai yang digelar Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) bersama WWF Indonesia di kawasan wisata Pantai Syota, Kamis (4//2026.
Aksi tersebut dilakukan untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Laut Sedunia.
Kegiatan bertema “#NowForClimate” atau “Sekarang untuk Iklim” itu melibatkan pemerintah daerah, organisasi lingkungan, serta masyarakat sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran terhadap ancaman pencemaran lingkungan, khususnya sampah plastik di wilayah pesisir.
Sekretaris Daerah Kabupaten MBD, Eduard J.S. Davidz, mengatakan persoalan lingkungan hidup saat ini menjadi tantangan serius yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Menurut dia, dunia menghadapi tiga ancaman utama, yakni perubahan iklim yang semakin cepat, penurunan keanekaragaman hayati, dan meningkatnya pencemaran lingkungan.
“Program seperti ini penting untuk mengingatkan bahwa lingkungan hidup merupakan warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang,” kata Eduard saat membuka kegiatan tersebut.
Ia menyoroti meningkatnya produksi sampah, terutama plastik, yang berpotensi mengancam kawasan wisata dan ekosistem pesisir apabila tidak ditangani secara serius.
Menurut Eduard, sampah yang menumpuk di destinasi wisata tidak hanya mengurangi daya tarik kawasan, tetapi juga berdampak pada kualitas lingkungan dan keanekaragaman hayati.
Ia mencontohkan persoalan sampah yang dihadapi sejumlah daerah tujuan wisata nasional sebagai peringatan bagi daerah-daerah kepulauan seperti Maluku Barat Daya agar lebih serius mengelola limbah sejak dini.
“Kita harus menjaga pulau-pulau kecil yang memiliki daya dukung lingkungan terbatas. Jika tidak dikelola dengan baik, dampaknya akan dirasakan oleh generasi berikutnya,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, sekda juga mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) MBD mengembangkan program pengelolaan sampah yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat, termasuk melalui pembentukan bank sampah.
Menurut dia, pendekatan tersebut dapat mengubah paradigma bahwa sampah bukan semata-mata masalah lingkungan, melainkan juga sumber pendapatan yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Data hasil kegiatan menunjukkan sampah organik menjadi jenis sampah yang paling banyak ditemukan dengan total mencapai 1.215,635 kilogram atau 1,43 ton.
Selain itu, terkumpul 99,786 kilogram sampah plastik, 89,64 kilogram kaca, 16,25 kilogram logam, 2,66 kilogram karet, 1,645 kilogram kain, serta 1,2 kilogram sampah bahan berbahaya dan beracun (B3).
DLH Kabupaten MBD bersama WWF Indonesia menilai kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan kawasan pesisir dan destinasi wisata.
Pemerintah daerah berharap kolaborasi serupa dapat terus dilakukan guna menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung pengembangan sektor pariwisata yang berkelanjutan di wilayah kepulauan itu. (LB-01)
