iakur, Lintas-berita.com, — Upaya pencarian korban kecelakaan speedboat di perairan Pulau Dai, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), masih menghadapi sejumlah kendala. Warga setempat meminta dukungan tambahan dari tim SAR karena proses pencarian terkendala keterbatasan bahan bakar minyak (BBM), akses komunikasi, serta minimnya armada laut.
Kecelakaan tersebut terjadi saat sebuah speedboat yang membawa penumpang dari Desa Sinairusi menuju Desa Tepa, ibu kota Kecamatan Babar Barat, mengalami musibah di perairan antara Pulau Dai dan Pulau Babar.
Menurut kesaksian warga, speedboat tersebut berangkat sekitar pukul 07.00 WIT. Saat perjalanan berlangsung, kondisi cuaca awalnya masih memungkinkan untuk berlayar. Namun, dalam perjalanan kapal kemudian mengalami kecelakaan karena dihantam gelombang hingga menyebabkan sejumlah penumpang hilang.
Dua penumpang yang berhasil menyelamatkan diri disebut tiba di daratan setelah berenang selama berjam-jam. Keduanya kemudian mendapat perawatan di Puskesmas Sinairusi.
Salah seorang warga Desa Sinairusi, Moce Eiwury, mengatakan, pencarian telah dilakukan sejak informasi kecelakaan diterima dari kedua korban selamat pada Kamis (11/6/2026) malam. Masyarakat langsung bergerak membantu menyisir wilayah sekitar lokasi kejadian dengan menggunakan sarana transportasi yang tersedia.
“Sejak informasi kejadian kami terima sekitar pukul 19.00 sampai 20.00 WIT, masyarakat langsung melakukan pencarian,” ujar Moce Eiwury.
Selain pencarian, masyarakat juga melakukan prosesi adat dan ibadah gereja sebelum kembali melanjutkan upaya menemukan korban yang masih belum diketahui keberadaannya.
Namun, keterbatasan sarana menjadi hambatan utama. Warga menyebut kebutuhan BBM menjadi persoalan karena pencarian di laut membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.
“Kami tidak bisa melakukan pencarian terus-menerus karena kendalanya BBM minim dan mahal. Komunikasi juga terbatas karena tidak ada jaringan,” katanya.
Menurut warga, komunikasi di wilayah tersebut juga menjadi tantangan tersendiri. Salah satu perangkat komunikasi yang digunakan adalah Starlink, tetapi operasionalnya tetap membutuhkan dukungan bahan bakar.
Pada malam setelah kejadian, warga bersama tim menggunakan Kapal Tifelink untuk melakukan pencarian di sekitar lokasi. Namun, hingga saat ini para korban yang masih hilang belum ditemukan.
Lokasi pencarian berada di wilayah perairan antara Pulau Dai dan Pulau Babar yang cukup jauh dari permukiman. Kondisi medan laut serta keterbatasan transportasi membuat proses pencarian membutuhkan dukungan tambahan. “Kami butuh kapal dan bantuan tim SAR untuk membantu pencarian,” ujar Moce Eiwury.
Selain meminta bantuan dalam operasi pencarian, masyarakat Pulau Dai juga berharap pemerintah memperhatikan persoalan transportasi laut di wilayah kepulauan tersebut.
Warga menyampaikan bahwa keterbatasan kapal membuat masyarakat masih bergantung pada perahu kecil atau speedboat untuk melakukan perjalanan antarpulau guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Masyarakat Pulau Dai sangat menderita. Untuk memenuhi kebutuhan, kami harus melakukan penyeberangan dengan perahu atau speed karena transportasi kapal masih minim,” katanya.
Menurut warga, keberadaan armada kapal yang memadai akan membantu aktivitas masyarakat sekaligus mengurangi risiko perjalanan laut.
“Kami berharap ada kapal yang bisa menjawab kebutuhan masyarakat, sehingga tidak perlu mempertaruhkan nyawa untuk bepergian,” ujarnya.
Hingga saat ini, operasi pencarian terhadap delapan korban yang masih hilang terus dilakukan oleh tim gabungan bersama masyarakat setempat. Keluarga korban masih menunggu kabar sambil berharap seluruh korban dapat segera ditemukan. (LB-01)







