Warga Binaan Rutan Ambon Produksi Keripik Pisang, Terjual 30 Bungkus

AMBON, Lintas-Berita.com – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon terus mendorong pelaksanaan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan melalui berbagai kegiatan produktif. Salah satunya melalui pembuatan keripik pisang yang menjadi sarana pengembangan keterampilan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga binaan.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin (7/9/2026) tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang bertujuan membekali warga binaan dengan keterampilan praktis serta menumbuhkan jiwa kewirausahaan.

Melalui kegiatan ini, warga binaan diberikan kesempatan untuk belajar mengolah bahan sederhana menjadi produk makanan yang memiliki nilai jual.

Dengan memanfaatkan pisang sebagai bahan utama, warga binaan mengolahnya menjadi keripik renyah yang tersedia dalam dua pilihan rasa, yakni original dan cokelat. Produk tersebut kemudian dikemas dan dipasarkan sebagai salah satu hasil nyata program pembinaan kemandirian di Rutan Kelas IIA Ambon.

Hasil penjualan produk keripik pisang karya warga binaan tersebut pun menunjukkan respons positif.

Dalam penjualan terbaru, sebanyak 30 bungkus keripik pisang berhasil terjual, terdiri dari 14 bungkus varian cokelat dengan harga Rp10.000 per bungkus dan 16 bungkus varian original dengan harga Rp5.000 per bungkus.

Dari penjualan tersebut, varian cokelat menghasilkan Rp140.000, sedangkan varian original menghasilkan Rp80.000. Dengan demikian, total penjualan mencapai Rp220.000.

Kasubsi Bimbingan Kerja Rutan Kelas IIA Ambon, Ode Ena, mengatakan kegiatan pembuatan keripik pisang menjadi salah satu bentuk pembinaan yang memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk belajar secara langsung, mulai dari proses produksi hingga pemasaran.

“Melalui kegiatan ini, warga binaan tidak hanya belajar membuat keripik pisang, tetapi juga belajar bagaimana menjaga kualitas produk, mengemas dengan baik, menentukan harga, serta memasarkannya. Hal-hal sederhana seperti ini penting sebagai bekal mereka untuk bisa lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat,” jelas Ode Ena.

Salah seorang warga binaan yang terlibat dalam pembuatan keripik pisang, Clifort, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan pembinaan tersebut.

Menurutnya, kegiatan itu memberikan pengalaman baru sekaligus kesempatan untuk mempelajari keterampilan yang dapat bermanfaat setelah kembali ke tengah masyarakat.

“Awalnya kami belajar dari proses sederhana, mulai dari menyiapkan pisang, mengolahnya, sampai menjadi keripik dan mengemasnya. Saya senang karena hasil yang kami buat ternyata disukai dan dibeli oleh masyarakat. Ini membuat kami semakin semangat untuk terus belajar dan menghasilkan produk yang lebih baik,” ujar Clifort.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus berjalan dan dikembangkan. Selama mengikuti pembinaan, dirinya mengaku memperoleh pengalaman dalam bekerja sama, menjaga kualitas produk, serta membangun tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dilakukan.

“Saya berharap keterampilan yang saya dapat di sini bisa menjadi bekal ketika nanti kembali ke luar. Kalau ada kesempatan, saya ingin bisa membuat usaha sendiri dan menerapkan keterampilan yang sudah dipelajari selama mengikuti pembinaan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Rutan Kelas IIA Ambon, Meta Putra, menyampaikan bahwa pembinaan kemandirian merupakan bagian penting dalam proses pemasyarakatan.

Menurutnya, warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga perlu mendapatkan pembekalan keterampilan sebagai modal untuk kembali dan beradaptasi di tengah masyarakat.

“Pembinaan kemandirian menjadi salah satu upaya kami untuk memberikan bekal keterampilan kepada warga binaan. Melalui pembuatan keripik pisang ini, mereka dapat belajar mengolah produk, bekerja secara bersama-sama, sekaligus memahami proses produksi hingga pemasaran,” ujar Meta Putra.

Ia menambahkan, hasil penjualan produk karya warga binaan menjadi salah satu penyemangat agar kegiatan pembinaan terus dikembangkan.

Dukungan masyarakat terhadap produk hasil karya warga binaan juga dinilai penting sebagai bentuk apresiasi sekaligus membuka peluang bagi mereka untuk terus berkarya dan meningkatkan keterampilan.

Ke depan, Rutan Kelas IIA Ambon akan terus berupaya mengembangkan berbagai program pembinaan produktif yang disesuaikan dengan potensi dan kemampuan warga binaan.

Pengembangan produk keripik pisang diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui peningkatan kualitas rasa, penambahan variasi produk, pengembangan kemasan, hingga strategi pemasaran yang lebih luas.

Dengan semangat berkarya dan dukungan masyarakat, keripik pisang hasil karya warga binaan Rutan Ambon diharapkan tidak hanya menjadi produk camilan, tetapi juga menjadi simbol perubahan, kreativitas dan harapan baru bagi warga binaan dalam mempersiapkan kehidupan yang lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat.

Melalui pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan, Rutan Kelas IIA Ambon berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program yang memberikan keterampilan dan pengalaman positif bagi warga binaan sebagai bagian dari proses reintegrasi sosial. (LB.04)

Penulis: Lely H Editor: Lintas-berita.com